by

Pramuka dan Sinyal Perubahan (Arah Baru) Indonesia

Henry Kasman Hadi Saputra, SPi MSi*

UKM Pramuka IPB University / 2006 – 2008

Bogorbarat.perdananews.com. Tidak terasa 59 yang tahun lalu Pramuka Indonesia dilahirkan dan merupakan tonggak perubahan konsep pembinaan kepemudaan di Indonesia. Kepanduan itu bernama Pramuka yang merupakan singkatan dari Praja Muda Karana yang diperingati setiap tanggal 14 Agustus.

Tepuk tangan, apel upacara, tali temali, seragam coklat dan scraf merah putih di leher itulah beberapa ciri khas kepanduan ini. Kesannya memang isinya tempat permainan, happy, api unggundan kegiatan berkemah.

Tetapi, pada kenyataannya organisasi kepanduan ini yang resmi diakui oleh pemerintah melaui surat Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka.

Menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan pemuda Indonesia, serta mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka.

Sejak saat itu Pramuka diakuai di nasional dan internasional. Tidak hanya murid SD memakai seragam ini tetapi juga kepala daerah bupati, walikota, gubernur, bahkan presiden.

Muncul pertanyaan menggelitik, apa sih istimewanya mengikuti gerakan kepanduan ini? Terlebih lagi untuk negara, Indonesia dapat apa? Mungkinkah sebagai agen perubahan arah baru Indonesia?

Mari kita bedah, sebenarnya Pramuka Indonesia punya keterampilan atau kecakapan apa saja sehingga didapuk menjadi Jamus Kalimasada nya pemuda, dan berpotensi merubah Indonesia menjadi lebih baik di masa datang.

Baca Rahasia Mimpi Agar Menjadi Nyata (Bag 1)

Pramuka Perguruan Tinggi

Kecakapan Kemandirian Bangsa

            Siapa yang tidak mengenal kegiatan perjusami (perkemahan jumat sabtu minggu) atau persami (perkemahan hari sabti dan minggu). Hampir semua yang pernah mengenyam pendidikan dasar sampai menengah atas (SD, SMP, SMA) pasti mengetahui istilah itu dalam kepramukaan.

Kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang menitikberatkan keharusan bertahan bersama dalam satu kelompok secara bersama-sama agar bisa hidup (survive) dan tetap bisa makan.

Perkemahan yang dilakukan “wajib” jauh dari pengawasan orang tua dan peserta membawa perbekalan seadanya, apakah itu beras, alat masak, tanpa listrik dan tidur seadanya (di atas tikar).

Fenomena ini hakikatnya memperkuat dan melatih kemandirian bangsa sejak dini. Tanpa embel-embel politik atau faktor ekonomi, semua peserta kudu memiliki tujuan yang sama yakni mensukseskan kegiatan perkemahan yang tentu dibutuhkan sikap sadar diri akan bekerjasama sebagai tim.

Kerjasama kemanusiaan yang hasil akhirnya dinilai dari sejauhmana ketidakcengengan peserta perkemahan dan tercapainya target dalam perlombaan yang diadakan dalam kegiatan perkemahan tersebut.

PERDANANEWS